Akhirnya kesampaian juga hunting di lokasi yang terkenal meskipun ini bukan kesukaan saya. Salah satu alasannya karena sifat kita yang latah dalam mengambil obyek. Untuk lokasi hunting atau tempat wisata yang terkenal biasanya sudah ada banyak sekali dokumentasi yang menggambarkan setiap sudutnya di media. Entah itu di media cetak atau media elektronik, khususnya internet. Selalu ada satu sudut tertentu yang wajib kita ambil setiap kita mengunjunginya. Contohnya adalah ketika saya mengunjungi Bromo. Meski dalam hati saya akan mengambil angel yang beda dari kebanyakan orang, tapi ada daya keindahan yang digambarkan sangatlah mempesona. Sehingga mau tak mau saya jepret juga sudut ini.
Kesulitan ketika melakukan pemotretan di lokasi ini tak lain dan tak bukan adalah dikarenakan suhu yang rendah. Suhu yang dingin tersebut membuat saya terus bergetar. Dan mau tak mau hasil foto tanpa tripod pun akan sangat lucu. Sedikit penyesalan memang, karena saya tidak memperkirakan sampai disitu. Dan meremehkan medan adalah sebuah hal yang sekali lagi tidak boleh dilakukan. Tentunya ini menjadi sebuah pelajaran bagi saya.
Setelah pemotretan kali ini saya semakin bangga dengan myLumix. Meski hanya prosumer, tapi hasilnya saya berani jika dibandingkan dengan hasil dSLR kalau hanya dilihat secara sekilas… he…he…he….
Kembali ke Bromo. Gunung yang sungguh mempesona. Bukan sekedar gunung biasa. Dengan segala keunikan panorama dan kultur budaya masyarakat di sana menjadikan Bromo sangat cocok untuk dijadikan tempat wisata favorit. Saran bagi yang masih pertama kali ke sana, ketika akan naik ke kawah karena lokasi yang ditempuh tidak memungkinkan dengan menaiki kendaraan, maka alternatif untuk menuju ke sana ada 2. Yang pertama adalah dengan brejalan kaki. Rute terdekat adalah dengan mengikuti jalur umum. Disini anda akan berjalan di atas kotoran kuda yang mengantarkan para pelancong. Dengan bau yang menyengat akan sangat mengganggu wisata kita. Untuk menghindarinya, kita dapat memilih jalur memutar atau yang terpenting tidak satu jalur dengan kuda. Alternatif kedua adalah dengan menaiki kuda. Meski bau, minimal kita tidak menginjak dan berinteraksi dengan kotoran mereka. Untuk diperhatikan harap hati-hati ketika melakukan perjanjian dengan para pemilik kuda, karena bisa-bisa kita ditarik biaya dengan tarif yang tidak wajar.

0 Comments.