Profesionalitas dalam Bekerja

Yang perlu kita persoalkan adalah bagaimana ia mengerjakan pekerjaannya itu. Maukah ia meluangkan waktu sejenak untuk mempelajari hal-hal yang belum ia kuasai? Apakah ia mengerjakan pekerjaannya asal-asalan, yang penting selesai. Sama seperti kebanyakan supir bis/mikrolet yang kerap kali memperlakukan penumpang seenaknya yang penting setoran tercapai.

Di era globalisasi sekarang ini, kita semakin dituntut untuk bekerja secara profesional. Tetapi sejauh mana sih kita bisa disebut telah bekerja secara profesional? Harus tahu banyak atau banyak tahu? Apakah harus menguasai bidang ilmu tertentu dengan mendalam tentunya? Atau hanya mengetahui segala jenis bidang ilmu saja?

Main criteria for professional include the following:

  1. Academic qualifications – A teaching degree (University doctoral program) theological, medical, or law degree – i.e., university college/institute.
  2. Expert and specialised knowledge in field which one is practising professionally.
  3. Excellent manual/practical and literary skills in relation to profession.
  4. High quality work in (examples): creations, products, services, presentations, consultancy, primary/other research, administrative, marketing or other work endeavours.
  5. A high standard of professional ethics, behaviour and work activities while carrying out one’s profession (as an employee, self-employed person, career, enterprise, business, company, or partnership/associate/colleague, etc). The professional owes a higher duty to a client, often a privilege of confidentiality, as well as a duty not to abandon the client just because he or she may not be able to pay or remunerate the professional. Often the professional is required to put the interest of the client ahead of his own interests.
  6. Reasonable work moral and motivation. Having interest and desire to do a job well as well as holding positive attitude towards the profession are important elements in attaining a high level of professionalism.

In Britain and elsewhere, professionalism is often designated by Royal Charter

Memang kriteria untuk menjadi seorang profesional sedemikian banyaknya. Selain kita dituntut untuk pintar dan pekerja keras, kita juga diharuskan menjadi salah satu dari orang yang dikategorikan sebagai orang cerdas.
Sedangkan profesionalisme dalam bekerja belum tentu dapat dilakukan oleh para profesional di atas. Profesionalitas juga memerlukan faktor kemauan. Tidak hanya kemampuan yang diperlukan. Bisa menempatkan diri. Bisa membawa diri. Yang lebih penting adalah sejauh mana dedikasi kita pada pekerjaan.

Seakan-akan cirri dan ketentuan profesionalitas sudah tidak menjadi soal. Apakah dia merupakan lulusan perguruan tinggi dengan jurusan pertanian yang kemudian bekerja di bidang perbankan, atau malah hanya lulusan SMA yang kemudian bekerja sebagai ahli IT.

profesionalitas-dalam-beker

Yang perlu kita persoalkan adalah bagaimana ia mengerjakan pekerjaannya itu. Maukah ia meluangkan waktu sejenak untuk mempelajari hal-hal yang belum ia kuasai? Apakah ia mengerjakan pekerjaannya asal-asalan, yang penting selesai. Sama seperti kebanyakan supir bis/mikrolet yang kerap kali memperlakukan penumpang seenaknya yang penting setoran tercapai.

Atau ia mengerjakan bagiannya dengan sungguh-sungguh dan berorientasi pada kualitas. Profesional tidaknya seseorang dinilai dari hasil kerja yang ia berikan, bukan latar belakang atau tingkat pendidikannya (id hawk @ http://forum.wgaul.com)

Jadi, bagi anda yang merasa tidak siap untuk profesional dalam bekerja, siap-siap saja untuk ditendang keluar dari perusahaan.

Leave a comment

0 Comments.

Leave a Reply


[ Ctrl + Enter ]

[+] kaskus emoticons nartzco